Wednesday, 5 July 2017

Modiste Wanna Be, Menyiapkan Anak Perempuan Menuju Baligh



Jilbab Series Idul Fitri

Bagi perempuan, harus diakui lebih ribet untuk urusan pakaian. Dan ini yang sempat saya rasakan saat menyiapkan ketiga putri saya. Tentu saja bisa dimaklumi. Lha, aurat perempuan kan memang lebih banyak daripada laki-laki. It's mean discrimination? Sure, no! Justru sebenarnya inilah keadilan Allah. Perempuan dengan segala keindahannya perlu dijaga kemuliaan dan kehormatannya. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari tubuhnya yang boleh tampak, wajah dan kedua telapak tangan, yang biasa nampak saat mereka shalat, tawaf, di kehidupan umum sebagaimana para muslimah pada masa Rasulullah. Selebihnya harus ditutupi saat mereka keluar rumah, memasuki kehidupan umum.

Allah lalu mensyariatkan pakaian perempuan di kehidupan umum berupa khimar dan jilbab. Kita di Indonesia sering salah kaprah memahaminya. Perintah mengenakan khimar (kerudung) bisa dicek ya di Qs. An-Nuur: 31. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar, kerudung. Kain yang menutupi rambut, telinga, leher, hingga juyub/thauqul qamis (bukaan kancing baju pertama). Nah, jilbab sendiri dinyatakan dalam Qs. Al-Ahzab: 59. Jalabib bentuk jamak dari jilbab diperintahkan Allah dijulurkan ke seluruh tubuh, dari atas hingga ke bawah, menutupi kedua telapak kaki. Dalam kamus Al Muhith, M. Yunus, jilbab diibaratkan mantel. Pakaian yang dikenakan di atas mihnah (pakaian yang kita pakai sehari-hari di dalam rumah). Jadi jilbab adalah gamis yang kita pakai di atas mihnah dan wajib dikenakan perempuan saat keluar rumah. Maka, pakaian perempuan saat keluar rumah itu terdiri dari dari pakaian atas berupa khimar (kerudung) dan pakaian bawah berupa jilbab. Wajib atas perempuan baligh untuk mengenakan keduanya saat keluar rumah.

Kebayang kan saya punya tiga anak perempuan, bagaimana menyiapkan anak-anak siap menutup aurat dengan sempurna saat baligh?

Diawali dengan membangun kesadaran mereka. Spirit keimanan, takut hanya kepada Allah. Bersama membangun ketaatan dari rumah. Dan pastinya keteladanan dari ibunya yang harus ngasih contoh pakai jilbab dan khimar. Di sinilah saya rasakan peran luar biasa seorang ibu. Rajin 'ceramah' sepanjang hari. Nasihat kadang bercampur marah. Hehe... Marah itu ekspresi sayang lho! Hanya cara pengungkapannya saja kurang tepat. Isbhir... Yap, jadi ibu itu harus berlatih sabar. Dan anak-anak tanpa kita sadari adalah guru kehidupan kita. Mengajari kita mejadi penyabar, penyayang, berempati, pemaaf, dan banyak sekali hal-hal amazing. Tak berlebihan, ibu adalah profesi termulia di sisi Allah sepanjang zaman. 

Urusan teknis juga harus disiapkan. Memberikan mereka khimar dan jilbab. Duh, ini butuh budget lho! Secara khimar dan jilbab di toko nggak semua ada yang murah. Kalaupun ada juga nggak awet. Anak-anak saya terkategori aktif. Pakaian sering sobek dan kotor sekali sampai sulit dicuci. Inilah yang 'memaksa' saya menyisihkan uang fee menulis untuk membeli mesin jahit 3 tahun lalu. Apakah saya waktu itu bisa menjahit baju? Tidak! Yang penting ada mesin dulu. Pasti saya akan terpaksa belajar menjahit. Sebab, saya kalau beli apa-apa harus bisa bermanfaat.

Dan semua berawal dari motivasi. Ada keinginan kuat, mau belajar giat, there is a way. Must be! Bikin all about handmade, di situ ada spirit cinta, kasih sayang. Ajaib lho. Saya yang ogah-ogahan bersentuhan dengan jarum itu mendadak bisa menjahit. Tidak kursus. Semua otodidak. Banyak konsultasi, diskusi sama suhunya. Nyemplung di komunitas perjahitan dunia maya. Hasilnya? Lumayanlah. Bisa bikin khimar dan jilbab untuk saya dan ketiga putri saya. 

Sebagaimana Idul Fitri tahun lalu, kali ini saya bikinkan pula satu set khimar dan jilbab untuk ketiga putri saya. Modelnya simpel dan dinamis. Perpaduan kain embos dan sifon. Bukan bahan yang premium. Per meter bahannya kurang dari 30 ribu. Payetnya seharga dua ribu sudah sisa banyak. Yang mahal bagi saya payet meteran jilbab adik di bawah ini. Satu meter 35 ribu.

Jilbab Dua Layer


Di sinilah repotnya saya. Apa-apa tidak mau setengah-setengah. Rajinlah saya kepoin Dian Pelangi sampai Si.Se.Sa yang harganya selangit. Modiste wanna be. Pengin bisa desain plus jahitnya. Yup, khusus busana perempuan. Rumah yang sempit jadi kapal pecah saat saya bikin pola dan memotong bahan. Tak apalah. Sebanding kok dengan hasilnya. Anak-anak suka. Dan konsekuensinya, mereka suka request dulu jilbab dan khimar seperti apa, termasuk bahannya. Berawal dari workshop keluarga ini, someday insyaallah bisa jadi lebih bermanfaat untuk orang lain. Semoga saya bisa dan siap. 

Jilbab Kakak

Nah, yang punya anak perempuan start menyiapkannya jangan mendadak ya... Baligh itu tak bisa diduga kapan datangnya. Menyiapkan sejak awal membuat kita lebih mudah. Tak perlu dipaksa lagi untuk mengenakan jilbab dan khimar saat beraktivitas keluar rumah. Insyaallah. 







Wednesday, 17 May 2017

Bakso Sapi Tanpa Pengenyal Tanpa Pengembang


Bakso adalah kuliner yang merakyat. Ada banyak jenis bakso. Salah satunya yakni bakso sapi. Harga daging sapi yang terus meningkat tentu bikin pusing abang-abang bakso. Ya, gimana mau ambil untung kalo bahannya saja sudah mahal? Berapa harus menetapkan harga jualnya? Itulah salah satu alasan utama, bakso-bakso keliling sebenarnya nggak pure daging. Komposisi dagingnya dikit. Yang dominan adalah tepung dan bahan-bahan tambahan lainnya. 




Suka was-was sebenarnya kalo beli bakso. Hasil investigasi yang ditayangkan di TV menemukan oknum pedagang bakso nakal. Mencampurnya dengan daging tikus, ada juga daging celeng. Ngeri banget! Belum lagi takaran bahan tambahan yang tidak aman dikonsumsi semisal obat bakso ato bahan pengenyal. Hadew, benar-benar hidup di zaman serba matre ala-ala negara kapitalis gini semua serba was-was. Nyari makanan yang halal dan thayib itu susah meski hidup di negeri yang mayoritas muslim. Inilah yang menjadi tantangan, khususnya para ibu. Termasuk saya. Dituntut (baca: dipaksa) menjadi ibu serba bisa. Apalagi urusan perbaksoan. Susah betul bagi saya. Sudah bereksperimen berulang kali belum bisa menghasilkan bakso yang kenyal bin elastis. Hahaha ... jelas saja lha wong nggak punya penggiling daging. Ogah pergi ke penggilingan daging di pasar karena tidak higienis. Lagian juga nanggung, dagingnya toh cuma 'sauprit'. Yo wes terpaksa pake blender saja. 

Lagi-lagi googling, berselancar menemukan teknik yang oke agar bisa menghasilkan bakso mulus elastis tanpa pengenyal, tanpa baking soda. Ternyata elastisitas adonan daging hampir mirip cara membuat adonan roti. Perlu dibanting-banting. Untungnya nggak seberat aksi banting-banting saat nguleni adonan roti. Oke mari dicoba dulu.

Bahan:
200 gram daging sapi segar tanpa serat
4 sdm minyak goreng
2 sdm tepung maizena
2 sdm tepung tapioka
4 sdm air es
1 butir putih telur
2 siung bawang putih, haluskan
1 sdt bawang merah goreng, haluskan
1 1/2 sdt garam (sesuai selera)
Sejimpit gula

Cara membuat:
1. Cincang daging sapi, masukkan ke dalam blender. Saya pake yang blender gelas kecil. Tambahkan minyak goreng, air es, tepung, putih telur, bawang putih, bawang goreng, garam, gula. Proses hingga halus.
2. Keluarkan adonan. Taruh dalam baskom. Uleni dengan tangan sambil dibanting-banting sampai elastis (kenyal, licin). Saya membutuhkan sekitar 25 kali bantingan ☺
3. Didihkan air di dalam panci. Begitu mendidih segera matikan api.
4. Ambil adonan bakso, bentuk bulatan dengan cara menggenggamnya lalu tekan dengan jari telunjuk dan jari jempol. Sendoki  lalu masukkan ke dalam panci berisi air yang telah dididihkan tadi. Lakukan hal serupa untuk sisa adonan.
5. Didihkan kembali panci berisi bulatan bakso, rebus hingga bakso mengapung. Tes kematangan dengan cara membelah bakso tersebut.
6. Bakso yang sudah matang segera tiriskan dan masukkan ke dalam baskom berisi air es. 






Hasilnya? Lumayan kenyal tapi tetap lembut. Tekstur bagian dalam padat. Sayangnya kelupaan membelah bakso dan memotretnya. Kini bakso siap disajikan bersama kuah, bihun, taburan bawang goreng dan sledri cincang, saos dan sambal bila suka pedas. Untuk kuah saya pake kaldu tulang ayam karena berbarengan membuat bakso ayam. Bumbu kuah pake bawang putih, bawang  bombai, gula, garam, merica bubuk.  










Saturday, 6 May 2017

Dompet Baru

Kapan kamu terakhir kali beli dompet? Saya hampir 15 tahun lalu. Saya terakhir kali beli dompet saat study excursie di Bandung. Sekitar tahun 2002. Sempat kepikiran beli baru tapi masih belum nemukan dompet yang cocok. Dompet sekarang ukurannya besar-besar. Kurang cocok dengan selera saya yang suka praktis, simpel.






Alhamdulillah sejak setahun lalu bisa bikin tas sendiri. Apa-apa terobsesi serba homemade dan handmade. Termasuk bikin dompet sendiri. Setelah googling sana sini, terdamparlah saya di blog  http://modestmaven.blogspot.co.id/2012/02/bi-fold-wallet-tutorial.html 
Hore ... ini dia model dompet yang saya cari. Kecil tapi muat banyak. Ada sedikit modifikasi. Kombinasi kain outer dan kantong. Slot kartu hanya satu sisi, sisi lainnya kantong biasa. Untuk sisi luar saya tambahin kantong beresleting untuk uang receh.





Untuk flap saya pake kancing magnet. Biar lebih manis ditambahin kancing kayu. Ceritanya bikin couple, tas dan dompet kembaran. Sekali-kali bikin tas dan dompet untuk diri sendiri. Selama ini kan bikin tas untuk orang lain. Masih sekedar hobi. Jadi bikinnya kalo ada yang pesan saja. Yess, made by order. 




Ini dia mesin jahit Janome NS7210 yang sudah dua tahun ini menemani saya bikin gamis, tas, dan dompet. Dengan mesin ini pula awal saya belajar serius menjahit secara otodidak. Bukan kategori mesin besar. Untuk menjahit tebal yang ada bahan pelapisnya semisal bikin tas kadang ngos-ngosan juga. Senjata andalan untuk menaklukkan itu semua adalah memilih jarum dan benang yang tepat serta settingan tekanan sepatu. Tidak lupa sering menyervis mandiri, dibersihkan dan dikasih pelumas. 




Saya pake bahan suede. Sekilas mirip kulit ya? Yap, obsesi selanjutnya adalah bikin dompet dan tas dari genuine leather. Kulit asli! Sekarang masih belum punya cukup nyali. Pake kulit sintetis saja masih banyak tidak rapinya saat jahit tindas he he he ... 




Ini dia si couple chubby bucket bag sama bifold wallet dari Bosphorus handmade siap diajak berpetualang. Semoga bisa akur, awet, dan bermanfaat ya




Saturday, 29 April 2017

Peyek Kacang Renyah Alami



Siapa suka peyek? Iya, hampir semua orang. Kecuali yang ada masalah kolesterol dan asam urat ya. Harus dibatasi betul. Peyek adalah pelengkap utama nasi pecel. Bisa pula menemani nasi krawu. Atau buat cemilan juga nggak bakalan nolak kok. Saya lama ngutak-atik resep peyek ini masih juga belum ada yang sreg. Mencari pengganti air kapur sirih. Bahan yang satu ini nggak selalu ada, selain itu saya masih belum yakin betul aman untuk dikonsumsi. Sudah pernah nyoba diganti maizena, eh belum juga sreg.

Pagi ini ceritanya pengiritan akhir bulan. Semua stok di kulkas harus dihabisin biar tak mubazir dan sekali lagi hemat ☺ Duh, stok tepung yang biasanya melimpah ternyata tinggal sedikit terigu, tepung beras, dan maizena. Tepung bumbu instan yang menjadi jurus andalan ketika diuber waktu tak ada sama sekali. Okelah, harus mampu berkreasi dengan bahan apa adanya. Periksa kulkas, masih ada stok ikan teri kering dan sedikit kacang tanah. Baiklah, kita coba bikin peyek yang renyah ala-ala pake air kapur sirih seperti yang di jual di warung-warung itu. Resepnya pake coba-coba. Kapan hari pernah mengubah komposisi tepung, lha ternyata bisa mirip tepung bumbu S***** Ceritanya ngintip dulu komposisi di tepung bumbu tersebut lalu mengira-ngira komposisi setelah belajar dari sejumlah pengalaman sebelumnya.

Bahan:
1 centong tepung terigu
1/2 centong tepung beras
1/2 centong maizena
1 butir kemiri
2 siung bawang putih
Sejimpit ketumbar
1 ruas jari kunyit
1/2 ruas jari kencur
Garam
Gula
1/4 sdt garam (dikira-kira)
Sejimpit gula pasir
Daun jeruk purut diiris tipis
Santan encer
Kacang tanah

Cara membuat:
1. Belah kacang tanah, rendam sebentar dalam air. Cuci bersih dan tiriskan.
2. Haluskan bawang putih, ketumbar, kunyit, kemiri, kencur, gula garam.
3. Siapkan wadah. Masukkan campuran tepung, kacang tanah, bumbu halus. Aduk rata.
4. Tuangkan sedikit demi sedikit santan encer. Cek kekentalan. Kekentalan harus pas, tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental. Tambahkan irisan daun jeruk purut. Aduk rata.
5. Panaskan minyak goreng. Setelah cukup panas, tuangkan satu sendok adonan peyek ke tepi wajan secara tipis. Lalu siram-siram dengan minyak panas dengan bantuan spatula sampai adonan tidak menempel di tepian wajan dan mengapung di atas minyak. Goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan. Koreksi rasa dan kerenyahan. Bila hasil peyek masih tebal dan alot, tambahkan sedikit demi sedikit santan encer. Goreng kembali. Bila sudah pas, lanjutkan terhadap sisa adonan. Cara ini memang agak tricky.
6. Angkat dan tiriskan.






Tips untuk menghasilkan kerenyahan peyek adalah komposisi campuran tepung yang harus pas, kekentalan yang pas, menggoreng dengan minyak banyak sehingga peyek terendam semua dalam minyak dan minyak harus cukup panas ketika menuangkan adonan. Di sini perlu uji coba dan koreksi. Bila sudah pas,  bisa dilanjutkan pada sisa adonan. 






Hasilnya? Cukup puas. Tak lagi galau meski tanpa air kapur. Oh, ya edisi foto kali ini memanfaatkan garasi yang masih berantakan dengan material bangunan. Daripada tiap hari dibikin bete karena pembangunan tingkat di atas garasi tersebut belum juga kelar, eh ternyata dimanfaatin untuk spot  baru juga lumayan lho!





Friday, 10 February 2017

Lumpia Piscok

Musim hujan masih terus berlanjut. Acara ngemil jalan terus. Abaikan timbangan 😜 Demi anak-anak yang doyan ngemil, sepertinya saya harus mengalah dulu.

Acara kali ini mengeksekusi pisang. Setelah sebelumnya kurang puas hasilnya karena pisang raja ternyata tidak cocok di lidah anak-anak untuk dibikin lumpia pisang. Pagi ini, kebetulan hari jumat, hari libur anak-anak sekolah. Yap, hari libur anak pertama dan kedua adalah jumat, bukan minggu. Sekali waktu saya pun meliburkan diri dari urusan nyiapin sarapan pagi. Acara diganti go wes sambil belanja sayuran untuk stok beberapa hari ke depan sekaligus beli sarapan murmer. Nasi pecel. Setiba di kios belanjaan, seperti biasa, ibu-ibu pada berjubel. Sambil mengumpulkan barang belanjaan yang mayoritas isinya adalah sayur, saya lirik stok pisang, nyari pisang ambon yang sudah over matang. Ahai, ada juga. Ambil kulit lumpia siap pakai juga. Si mbak mengingatkan, "Bu, apa nggak terlalu matang pisangnya?" Saya tersenyum, "Nggak papa, Mbak. Mau dibuat cake, kok." Ada rencana juga sih buat cake. Tapi yang dieksekusi pertama adalah lumpia cake. Simpel, praktis, buat bekal si kecil yang di TK. Ia liburnya bukan jumat, tapi sabtu-minggu. Makanya saya lebih memilih bekal yang cepat bikinnya.




Sesaat menjelang nganterin ke TK, saya segera bersiap membuat lumpia pisang coklat.

Bahan:
Pisang ambon yang sangat matang
Kulit lumpia siap pakai
Meses
Keju


Cara membuat:
  1. Kupas pisang, potong menjadi dua bagian. Masing-masing belah menjadi dua.
  2. Siapan kulit lumpia. Isi dengan meses dan pisang. Gulung kulit lumpia menyerupai bentuk amplop. Untuk merekatkan bagian ujungnya, oles tipis dengan air lalu lekatkan.
  3. Goreng dengan minyak banyak di atas api sedang sampai berwarna kuning kecoklatan.
  4. Angkat dan tiriskan.
  5. Lumpia pisang coklat siap disajikan. 



Pisangnya lembut. Buru-buru sebagian disisihkan biar nanti bisa dipotret setelah nganterin si bungsu. Karena bisa tak bersisa bila tidak disisihkan. Lha, begitu tahu ada lumpia piscok langsung dimakan sama si kakak 😊 Si adik juga nggak mau kalah. Bekal habis, pulang pun langsung menghabiskan sisa stok. Untung sebelum dia pulang sudah selesai acara potret memotret.




Dan akhirnya, habiss... emaknya hanya kebagian icip-icip sedikit sambil mengabadikan BTS studio foto di dapur. Studio abal-abal 😍





Hasilnya jreng-jreng ....






Sunday, 18 December 2016

Serunya Bikin Donat Super Empuk Bareng Anak-Anak

Donat donat donat  donat ... Anak-anak nggak ada bosennya. Padahal topping juga nggak macem-macem. Paling banter ya pake buttercream dan meses. Bermula mengisi kegiatan sekolah setelah UAS, anak-anak diminta bawa perlengkapan membuat donat. Untuk bahan-bahannya katanya sudah disediakan bu guru. Bagi ketiga anak saya, bikin donat tentu bukan sesuatu yang asing. Mereka paling seneng ngebentuknya. Tepatnya mainan adonan. Ya, selama ini harus ada bagian adonan yang dikorbankan untuk mainan mereka. Anggap saja sebagai plastisin 😆 Berhubung di sekolah dituntut serius belajar, kali ini di rumah mereka minta izin ikut ngebentuk donat sendiri. Baiklah, dengan senang hati saya izinkan karena sayanya sudah capek banget. Nguleninya sudah menjelang magrib. Jadi proses proofing bisa ditinggal mandi, shalat magrib, dan makan malam 😁

Perlu dikasih contoh, bagaimana menipiskan adonan dengan rolling pin. Dan teknik memberi taburan sedikit tepung di atas adonan agar tidak lengket saat digilas. Lalu mencetak manual. Ya, saya masih mengandalkan nyetak manual. Meskipun sudah bertahun-tahun bikin donat, saya tidak punya cetakan donat. Pernah mau beli, eee... stok cetakan donat habis. Ya sudah. Hingga detik ini tetap setia pake mulut gelas untuk bentuk bulatannya dan lobangnya dibolongin pake spuit. Dan ternyata proses ini adalah tantangan yang sangat menarik bagi anak-anak. Selanjutnya sisa lembaran adonan dibulatkan lagi, digilas rolling pin, dan dicetak kembali. Karena yang mengerjakan anak-anak, tidak ada standar  baku. Suka-suka mereka ngebentuk dan mana yang dirasa paling nyaman. Alhasil ukuran donat jadi tembem-tembem dan bentuknya penyak-penyok 😢 Ya wes rapopo, itu namanya latihan. Biar mereka tau ternyata nggak mudah ngebentuk donat yang mulus dan seksi itu 😍

Dan inilah penampakan donat buatan mereka.Tak terlalu buruk kan?


O ya, kali ini saya menggunakan resep yang diajarkan oleh bu guru anak-anak di sekolah. Pake kuning telur saja dan takaran margarin atau mentega lebih banyak dari yang biasa saya buat. Walhasil, jadilah donat yang super empuk, apalagi pake kentang. Ini edisi tanpa hemat bahan ya.

Bahan:
500 gram terigu (saya pake 525 gram terigu Cakra)
1 sachet susu bubuk
1 sdt Fermipan
1 sdm gula (saya total pake 2,5 sdm gula pasir)
1 sdt garam
2 butir kuning telur
1 buah kentang ukuran sedang yang sudah dikukus dan dihaluskan (saya pake 2 buah ukuran kecil)
100 ml air (saya pake 120 ml air hangat)
150 gram margarin

Caranya:
1. Larutkan fermipan beserta 1/2 sdm gula pasir ke dalam 100 ml air hangat kuku. Diamkan hingga berbuih (tanda bahwa ragi aktif).
2. Siapkan terigu, susu bubuk, sisa gula pasir, garam dalam wadah. Aduk rata. Tambahkan kuning telur dan kentang yang telah dihaluskan. Aduk rata.
3. Tambahkan larutan fermipan, uleni hingga setengah kalis.
4. Tambahkan margarin, uleni hingga kalis elastis.
5. Bulatkan adonan. Taruh dalam wadah. Oles tipis-tipis permukaan adonan dengan minyak goreng. Tutup dengan serbet basah. Istirahatkan sampai mengembang dua kali lipat.
6. Kempeskan adonan, pipihkan, dan cetak.
7. Istirahatkan kembali hingga adonan mengembang. Selama proses proofing yang kedua kalinya ini, tutup kembali adonan agar terjaga kelembabannya.
8. Setelah mengembang dan siap digoreng (adonan ringan seperti agar-agar), goreng dalam minyak yang banyak dengan api sedang sampai berwarna kuning kecoklatan.
9. Angkat dan tiriskan.
10. Beri topping sesuai selera.




Hoho.. ada yang gendut alias obesitas, ada yang sedang, ada yang gak bulet-bulet amat. Yo wes ben, sing penting enakkk tenan! Donat ini sampai 3 hari masih empuk asalkan ditaruh dalam wadah tertutup rapat, dianjurkan wadah yang kedap udara.


Thursday, 8 December 2016

Tas Handmade dan Hobi Baru

Siapa sangka, saya yang dulunya ogah-ogahan bersentuhan dengan jarum jahit, sekarang malah menekuni hobi baru, menjahit tas. Hobi yang bagi saya cukup menantang, tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding saya belajar fotografi. Itu menurut saya. Saya sendiri juga nggak habis pikir, mengapa bisa tertarik dan nguprek dunia jahit menjahit tas.

Berawal ingin belajar serius menjahit baju, saya justru terdampar di blog Craftalova yang super amazing bagi saya. Lho, dunia jahit menjahit itu tidaklah sesempit yang saya bayangkan. Di sana tidak melulu soal baju dan derivatnya. Tapi ada salah satu cabangnya, craft yang menurut saya sangat 'seksi'. Dan, rasa penasaran pun kian membuncah saat melihat di grup, aneka tas yang wooww! Tas-tas keren yang dikerjakan dari rumah dengan mesin jahit portable!

Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Bergeraklah saya. Menekuni satu per satu tutorial di dunia maya. Mulai googling, youtube, hingga pinterest. Termasuk beli tutorial di mbak-mbak keren di grup. Mulai mengumpulkan amunisi perang. Segala printilan bahan tas yang cukup menguras tabungan saya. Bahkan menguras budget melebihi yang pernah saya keluarkan untuk membeli amunisi fotografi. Ya, saya nggak pernah terbayang jika langkah saya sampai sejauh ini. Ah, anggaplah ini sebagai investasi.

Ide bisnis pun ikut bergulir. Mengisi olshop yang selama ini tak terkelola dengan baik, bila diisi dengan barang produk sendiri, menurut saya itu lebih simpel. Itu artinya, harus bisa menelurkan produk yang layak jual. Tas untuk ketiga anak saya adalah pilot project dengan segala evaluasi di sana sini. Akhirnya dengan promo dari mulut ke mulut tentang hobi ini, saya memberanikan diri menawarkan produk yang berlabel Bosphorus ini ke orang-orang terdekat.




Ini baru awal, masih bayi banget ya. Berharap one day, bukan lagi sekedar bicara tentang hobi, tapi profesional bisnis berbasis home industry. Semoga 😉